Culture

Air dalam Peradaban Bali

Rembug Sastra Purnama Badrawada di Pura Jagatnata Denpasar kali ini mencoba membahas air di dalam peradaban Bali. Pulau Bali tergolong pulau kecil semestinya tidak menghadapi masalah air. Me-manage Bali yang kecil semestinya tidak sulit dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain atau negara-negara yang wilayahnya luas. Di sini infra struktur, sistem informasi, tingkat pendidikan dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan sudah bagus. Di pulau ini secara tipografi wilayah tergolong lengkap: di sini ada gunung / pegunungan, hutan, sawah, tegalan, perkebunan, danau, dam, bendungan, mata-mata air lain, sungai, biota, fauna, manusia, desa-desa, kota, pantai, dan laut, biota, dan fauna bawah laut. Pulau Bali termasuk dangkalan Sunda sehingga secara etnis, bahasa, biota, dan fauna lebih dekat ke wilayah Barat. Selat Lombok memisahkan pulau Bali dan Lombok merupakan laut yang dalam membentang ke Utara hingga ke kepulauan Filipina. Di tanah yang tipografinya seperti ini berdiam manusian Bali yang dianugrahi kemampuan cita, rasa dan karsa yang tinggi melahirkan peradaban besar, suatu peradaban yang inklusif, menghargai kebhinekaan, menerima hal-hal terbaik dari luar, mengembangkan keberaksaraan, dan kerja keras. Dari kesusastraan babad, ternyata orang-orang suci di Jawa sejak zaman Jawa Kuno banyak berkunjung bahkan menetap dan mencari pembebasan di Bali. Ini artinya pulau ini mempunyai arti tersendiri di dunia spiAir dalam Kebudayaan Baliritual.

23 Jul 2017

Memahami “Karang Awak” Ida Pedanda Made Sidemen

Tema pokok Pesta Kesenian Bali (P.K.B.) ke-38 tahun 2016 ini adalah “Karang Awak: Mencintai Tanah Kelahiran”. Tema ini diharapkan menjadi inspirasi atau arahan bagi para seniman, panitia, dan peserta pameran di dalam menciptakan dan menampilkan karya-karya seni di kompleks Taman Budaya (Art Centre) Denpasar Bali, tempat dilaksanakan hajatan seni ini dari tanggal 9 Juli s/d 11 Juli 2016. Sementara itu, Ida Pedanda Made Sidemen (1858-1984), seorang kawi-wiku asal Gerya Taman Sanur di dalam karya geguritan-nya berjudul Salampah Laku ada menyuratkan konsep “tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin” dalam pupuh Sinom. Ungkapan ini semakin dikenal sejak upaya-upaya penerbitan atau pembahasan karya penting ini dimulai.

Memahami Karang Awak

25 Jul 2016

Sanskrit as a Vehicle for the Emergence of India-Indonesia Cultural Relationship

Abstract
Significant influence of Indian culture in the archipelago was due to the role of Sanskrit played in addition to strategic position the archipelago has in the world. When the encounter between Indian cultures with local culture happened in ancient times there were some rooms for Sanskrit to be used as medium of expressions. The result was the emergence of textual traditions producing a huge number of inscriptions and texts. In comparison with Indo-China region, it is only in Indonesia Sanskrit and Old Javanese have produced a huge number of literature covering various subjects of life both religious and non-religious. It has been studied in an intensive manner in teaching and learning tradition in a long span of time. It has a force that can harmonize various differences exist in society. However, the decline of Sanskrit learning perhaps due to the conversion of the people into Muslim in 15th century; and cultural contact between the two cultures got lessened till faded away in the post Majapahit period. Sanskrit as a vehicle of culture covers various aspect of life, like art, science, literature, etc.

Key words: Indian culture, Sanskrit, Old Javanese, inscription, and literature.

Sanskrit as Vehicle for India-Indonesia Cultural Links.-2

23 Jul 2016