Ethics

Nawa Natya sebagai Ajaran Kepemimpinan: Membaca Teks Siwagama Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Oleh
I.B. Putu Suamba

Ketika masyarakat moderen mencermati adanya penyimpangan-penyimpangan etika/moralitas diperlihatkan oleh pemimpin moderen di dalam mengola pemerintahan, masyarakat sering melirik ajaran-ajaran etika dari sudut yang lain, yaitu dengan melihat ajaran etika seperti diterapkan di dalam dua epos besar terkenal, yaitu Ramayana dan Mahabharata. Rama dipandang sebagai raja yang ideal, sebagai tokoh penegak moral, sebagai putra yang berbhakti kepada orang tua, sebagai kakak yang ideal bagi adik-adiknya, sebagai lawan yang ideal bagi Rahwana. Tidak hanya memperlihatkan raja yang ideal, Ramayana juga memperlihatkan abdi-abdi yang ideal termasuk Wibhisana. Secara implisit di dalam Ramayana diperlihatkan etika abdi yang ideal, seperti diperlihatkan oleh Sugriwa, Hanuman, Jatayu, dan sebagainya. Demikian juga saudara yang ideal seperti Laksamana dan Bharata, istri yang ideal seperti Sita, ayah yang ideal seperti Dasaratha, dan sebagainya. Semuanya memperlihat tindakan etika sesuai dengan status sosialnya. Begitu juga tokoh-tokoh penting di dalam Mahabharata, seperti Yudisthira, Krishna, Bhisma, dan sebagainya menerapkan ajaran-ajaran kepemimpinan yang ideal.
Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, etika pada sisi lainnya, sepertinya bergerak mundur. Yang lebih memprihatinkankan justru kemerosotan etika melanda oknum aparatur pemerintahan, parleman, dan penegak hukum. Sesungguhnya kita mengharapkan mereka ada di garda terdepan di dalam penegakkan etika dan moralitas masyarakat mengingat degradasi moral sudah begitu besar. Mengkaji ajaran etika di dalam kesusatraan Nusantara untuk bisa memberikan pencerahan bahwa ajaran etika sebagai syarat mutlak mendapaatkan kesejahteraan dan kebahagiaan.
Berikut ini dicoba dibahas dan refleksi atas ajaran etika disebut dengan Nawa Natya seperti diperkenalkan oleh Ida Pedanda Made Sidemen di dalam karyanya Siwagama.

nawanatya-dan-awanatya-foto-sebagai-ajaran-kepemimpinan

21 Dec 2016

Pemikiran-pemikiran Environmental Ethics dalam Kesusastraan Sasana Jawa Kuno: Studi Eksploratif

Abstract
Achievement obtained in science and technology has been acknowledged that it has contributed so many things in terms of easiness and development. However, this development has causes the existence of dehumanization affecting entire world. There exists a problem of gaps between humans and humans and between humans and environment. Ethics in so far deals only with relationships amongst human beings, so that environment only depends on the kindness of human beings. In other words, ethics is still anthropocentric rather than nature or universal central approach in its application. Texts of Sasana in Old Javanese literature (Kawi) indeed contain ethical environment thoughts which need to be uncovered and reconstructed to become a system of environmental ethics that to be used to cope with increasing problems on environment. Ethical thoughts cover the concepts of Tri Kaya, Dasa Sila, Dasa Yama Brata, Dasa Niyama Brata, Tattwam Asi, etc. All of these are, really speaking, bases of yoga. When these thoughts can be formulated, then environmental ethics is none but an implementation of yoga in which two different poles can be kept in balance and synchronized.
Key words: environmental ethics, dehumanization, anthropocentric, yoga, dharma.

Further readingEnvironmental Ethics dalam Teks Sasana Jawa Kuno

25 Jul 2016