Pemikiran-pemikiran Siwa-Buddha I Gusti Bagus Sugriwa

I Gusti Bagus Sugriwa telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya 36 tahun yang lalu, yaitu tepatnya 22 November 1977. Beliau meninggal dunia dalam usia 77 tahun . Mengenang kembali figur penting di dalam perjalanan kebudayaan Bali terutama pada hari-hari bersejarah beliau terasa penting apalagi bagi murid-murid atau orang-orang yang dekat dengan beliau. Generasi yang tidak mengenalnya secara langsung, seperti saya, tentu saja ingin mengenal tokoh ini lebih jauh. Pemikiran-pemikiran beliau masih banyak relevan di dalam konteks membangun kehidupan beragama dan kebudayaan Bali yang berpijak pada tradisi sendiri. Salah satunya adalah mengenai pemahaman beliau di dalam memandang Siwa-Buddhagama sebagai inti agama Hindu Indonesia seperti tertuang di dalam tulisan-tulisan dan wejangan-wejangan atau kata-kata yang sempat disampaikan kepada murid-muridnya. Bagaimana pemahaman beliau mengenai hakikat Siwa-Buddha dan penjabarannya ke dalam etika dan upacara agama seperti ditradisikan di Bali dan Lombok?

Pemikiran Siwa Buddha Sugriwa

21 Jul 2016

Jagatnatha: Memahami Bhatara Siwa sebagai Penguasa Dunia

Jagatnatha adalah nama sebuah pura berlokasi di jantung di kota Denpasar, Bali. Pada Minggu, tanggal 17 November 2013 bertepatan dengan Purnama Kalima atau Redite Kliwon Pujut adalah piodalan di pura ini. Momentum ini tentu sangat baik melakukan perenungan di dalam meningkatkan kualitas rohani kita. Kiranya relevan rembug sastra kali ini mencoba mengangkat topik “Jagatnatha” di dalam konteks Siwa Tattwa seperti tersurat dan tersirat di dalam sumber-sumber ajaran Hindu di Indonesia, terutama pada naskah-naskah berbahasa Jawa Kuno (Kawi).
Berbeda dengan tradisi keagamaan di India, jagatnatha diasosiasikan dengan tempat pemujaan kepada Krishna, seperti pada Mandira Jagatnatha di kota Puri di Orissa , Jagatnatha di Denpasar adalah pura (tempat suci) untuk memuliakan dan memuja Bhatara Siwa sebagai Jagatnatha. ‘Jagatnatha’ artinya penguasa jagat (dunia), salah satu aspek di antara begitu banyak kemahakuasaan beliau. Pada ulon di bagian atas bangunan Padmasana pura ini terdapat gambar Acintya (artinya ‘tak terpikirkan’), salah satu sifat/sebutan Bhatara Siwa dalam bentuknya yang Nirguna . Bagaimana konsep jagatnatha di dalam naskah-naskah Nusantara?

Jagatnatha – Copy

21 Jul 2016

Pemikiran-pemikiran Siwa-Buddha Prof Dr I.B. Mantra

Prof. Dr.I.B. Mantra, seorang tokoh penting di dalam perkembangan pemikiran kebudayaan Indonesia, wafat pada tanggal 10 Juni 1995 di Denpasar pada usia 67 tahun karena sakit. Beliau lahir 8 Mei 1928. Beliau seorang intelektual terkemuka yang buah-buah pemikiran kebudayaannya sudah diakui oleh masyarakat luas terutama Bali. Pesta Kesenian Bali (P.K.B.) hingga dalam pelaksanaan yang ke-36 tahun 2014 mengambil tema Kertamasa ini, adalah salah satu buah pemikiran beliau. Gagasan-gagasan pembangunan beliau banyak memberikan inspirasi kepada tokoh-tokoh masyarakat.

Mengenang kembali pemikiran-pemikiran dan sepak terjang Prof. Dr. I.B. Mantra (1928-1995) dalam berbagai bidang dirasakan perlu di tengah-tengah percaturan pemikiran dunia yang melanda Indonesia. Murid-murid, sahabat-sahabat atau staf-staf beliau ketika masih aktif di pemerintahan pastilah terkenang dengan sosok ini. Bagi mereka yang tidak mengenal beliau secara langsung tentu saja usaha-usaha untuk menggali atau meninjau kembali pemikiran-pemikiran beliau dirasakan penting kalau bukan menjadi keharusan terutama generasi muda Bali agar mempunyai pengetahuan sejarah pemikiran manusia Bali di masa lampau sebagai bekal menata masa sekarang dan masa depan; apalagi pada hari-hari berpulang beliau.

PEMIKIRAN siwa buddha- mantra

 

21 Jul 2016

Philosophy of Language in Javanese Saivism: A Brief Account

Abstract
The problem of language has been a serious concern amongst philosophers both in Western and Indian traditions since old times. Javanese-Śaivism of ancient Java is not an exception in this regard. In conformity with Brahmanical traditions, Javanese-Śaivism views language has a divine origin. It is not merely means of communication as adopted by naturalists. The very nature of the Ultimate Reality called Śiva is sound (sabda) in the form of cosmic sound (nada). There is identity of sound and reality. Everything comes out from nada and finally everything that exists in the world disappears gradually in nada in niskala. This implies that language and thought are closely related since the very nature of thought is Śiva and its operation is possible only due to the existence and role of divine power (sakti). This sakti causes meaning (artha) of language (word) is possible. Thus, Javanese-Śaivism holds correspondence theory of meaning and word, and also truth.

Key words: Javanese-saivism, nature of language, nada, meaning, correspondence.

Further reading here PHILOSOPHY OF LANGUAGE IN JAVANESE

19 Jul 2016

Pictures: Visit to Sanchi Stupa, launching book in Lombok, etc.

IMG_4955

With Prof SR. Bhatt at Sanchi Buddhist Monument, Madhya Pradesh, India (2012)

DSCN9406

Launching function of book entitled “Pasu Yajna dalam Kesusastraan Weda” at STAHN Gde Pudja Mataram, Lombok Island (2014)

DSCN9012

With Thai Buddhist Monks and Lay Persons at Borobudur Temple, Central Java.

Seminar “Same Sex Marriage Viewed from Religion Perspectives in Indonesia” at The Grand Inna Bali Beach Hotel Sanur, Bali

1947657_692347484158423_264408362_n

Discussion on “Life and Some Thoughts of I Gusti Bagus Sugriwa, a Balinese Intellectual” at Gerya Giri Sunya, Mambal, Badung, Bali. From left: IBG. Agastia, Prof. I Gusti Putu Phalgunadi, IBP. Suamba, and I Dewa Gd Windhu Sancaya.

DSCN1095

International Seminar on “Cultural Ecology from Buddhist Perspectives” at Chiang Mai, Thailand (2014)

IMG_5006Picture 23910686942_935627516451171_6585758773584627644_n10444571_10202897756697271_7121379786742937710_nDSCN7956IMG_5420

 

19 Jul 2016

Pengendalian Diri: Renungan dalam Siwaratri

Teks Kakawin Siwaratrikalpa adalah acuan yang paling otoratif di dalam pelaksanaan Brata Siwaratri di dalam tradisi agama Hindu di Indonesia. Tradisi Nyiwaratri ini pasti sudah ditradisikan di Jawa pada zamannya. Setelah Kerajaan Majapahit (1293-1486) runtuh tradisi ini dilanjutkan di Bali dan Lombok sekalipun pada zaman yang disebut Jawa Kuno belum (mungkin) sepopuler sekarang; masih terbatas hanya pada golongan-golongan yang nyastra. Dalam tradisi Nyiwaratri di Lombok dikenal dengan tradisi Sambang Semadhi, yaitu melakukan tapa, brata, yoga, samadhi. Boleh dikatakan malam ini adalah malam yoga, yaitu malam yang paling gelap untuk beryoga. Jadi, malam Siwa (Siwaratri) dikenal juga dengan Sambang Semadhi. Di dalam tadisi ini India disebut Mahasivaratri. Mpu Tanakung pangawi susastra ini hidup pada masa Majapahit akhir ketika diperintah oleh raja Adisuraprabhawa

Further reading here Pengendalian Diri, Brata dan Punya

19 Jul 2016

Memaknai Dana Punya dalam Siwa Puja Siwaratri

Pada hari yang sangat penting ini, kita kembali berada di Pura Luhur Uluwatu, yang merupakan sebuah Pura Sad Kahyangan, dan sekaligus Pura Dang Kahyangan yang sangat kita sucikan. Hari ini adalah hari Suci Siwaratri, yaitu hari untuk melakukan Siwapuja yang jatuh pada Panglong Ping 14 Sasih Kapitu, Catur Dasi Kresnapaksa Maghamasa. Pelaksanaannya ditandai dengan pemujaan kepada Siwa, prinsip tertinggi alam semesta, Brata Siwaratri yang terdiri atas Jagra (tidak tidur), Upawasa (puasa), dan Mona (Brata diam). Disamping itu, besok pagi secara khusus diadakan upacara menghaturkan persembahan (punya) kepada para pandita, yaitu bertepatan dengan Tilem Sasih Kepitu. Pemaknaan betapa pentingnya punya di dalam pendakian spiritual sebagai bagian dari Brata Siwaratri kiranya perlu mendapat perhatian kita semua sehingga upacara yajna yang terkesan selama ini sangat ritualistik mempunyai dimensi sosial kemasyarakatan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian agama Hindu tidak hanya terkesan mengurusi masalah-masalah kerokhanian (niwrtti) tetapi juga keduniawian (prawrtti)

Further reading here Dana dalam Siwaratri

19 Jul 2016

Guru dalam Renungan Hari Suci Siwaratri

 

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Siwaratri merupakan hari suci untuk memuliakan, memuja dan memohon anugrah kepada Siwa. Siwaratri jatuh setiap tahun, yaitu pada purwani ning Tilem Sasih Kepitu Perayaan Siwaratri dilakukan dengan melalukan Brata Siwaratri, yaitu puasa (upawasa), melek (jagra) dan diam bermeditasi, tidak mengeluarkan kata-kata (mono). Yang paling dipentingkan adalah jagra, yaitu melek selama 34 jam sejak matahari terbit Panglong Sasih Kepitu hingga matahari terbenam pada Tilem Sasih Kepitu. Pada hari ini umat Hindu di seluruh dunia merayakannya dengan segala kesuntukan, kekhidmatan.
Hari suci Siwaratri tahun ini jatuh pada hari Selasa, 20 Januari 2004. Kiranya untuk memaknai lebih dalam Siwaratri kali ini, tidaklah berlebihan kalau kita mencoba memahami guru dalam perspektif ajaran Siwaratri. Betapa tidak pemahaman terhadap eksistensi guru baik sekala maupun niskala ini mengalami pergesaran-pergesaran sejalan dengan perkembangan zaman. Jika dulu profesi guru dinilai sebagai profesi yang mulia, sekarang guru itu tidak lebih dari pegawai kantor biasa dengan segala rutinitasnya. Minat untuk menjadi guru tidak menjadi pilihan pertama anak-anak lulusan sekolah menengah. Kalaupun ada yang memilih itu pun anak-anak dari kalangan kelas ekonomi kelas bawah. Berpredikat menjadi guru sekarang ini bukan menjadi kebanggaan, padahal guru mengajarkan ilmu pengetahuan baik ilmu-ilmu sekuler maupun rokhani. Berpredikat guru sering diplesetkan menjadi kang guru.
Makalah in mencoba membahas guru dari perspektif ajaran Siwa khususnya Siwa Siddhanta dan mencoba menghubungkan ajaran-ajaran itu dengan fenomena kekinian bahwa terdapat profanisasi pemaknaan guru. Makalah ini diharapkan mengingatkan kembali betapa penting dan strategisnya peranan guru di dalam pembangunan peradaban umat manusia yang mengedepankan nilai-nilai kesucian.

Further reading here GURU DALAM RENUNGAN SIWARATRI

19 Jul 2016

Wisdom: Deeds as faithful guide

Ring laksmi makahingan ing greha taman vinava ri sedenging paratrika/
Ngkaneng smasana hinganing sva-kula vandhava veka-veka bharya tan vaneh/
Nghing tang karmika purva yan sukreta duskreta manuduhaken tekeng paran/
Dharmadharma tinutnya (selavana) salakna dadi milu manuntun ing henu //
(Nirartha-Prakrta., III: 1, pp 26-7)

[When one is passed away, his/her wealth remains at home only, it will not go along with him/her. All members of family: bothers-sisters, wife/husband and children come along with him/her till the cemetery only. However, all actions performed during life-time either good or evil will obviously become the guide wherever the soul /self goes].
Most of us have spent a lot of time, energy and finance to take care of our children and wife/husband. It is very natural parents devoted to their children, husband to his wife and vice versa since they love each other. We do so because we are worried about them: health, performance, education, future, etc. We wish them to become successful in their future life. It is common for all in every place of the world. However, it is very less attention given to the actions themselves. For gaining is not the most important but the motives of acquiring it. Is it gained in good or bad manner?
Nonetheless, actions – good or evil during life time, are the faithful/devoted friends wherever one goes after death; they always come along with him/her. They guide the soul to the proper direction either to hell or heaven. Thus, one is the architect of his/her after-world journey. Wealth and other possessions still remain at home only. Family members, colleagues, friends and others accompany him/her till the cemetery/cremation ground only, and after the funeral function is over they have to come back home sad leaving the soul alone going somewhere. They can do nothing for the soul, except weeping. Or, none can help him/her except him/herself. It is only good/right/noble action that can save him/her from punishment/hell, whereas evil action causes him to experience sufferings in hell. Good/bad actions determine his/her future rebirth. Hence, during life-time one should try hard to perform good/right thinking, speech and action (known as Tri-kayas) irrespective of unfortunate situation faced in life. The most valuable wealth is investing goodness to other for the betterment of society or nature. Unlike physical/material wealth, goodness no one can take away or rob it. So, we do not need to spend money to save guard it***

19 Jul 2016

Besakih Temple Bali In Aeral Video

18 Jul 2016